PPD (Perkembangan Peserta Didik)
Perkembangan
Kehidupan Pendidikan dan Karier
1. Pengertian
Kehidupan Pendidikan dan Karier
Banyak
bangsa yang mengikuti prinsip pendidikan (belajar) seumur hidup, yang artinya
adalah manusia itu senantiasa terus belajar sepanjang hayatnya. Kehidupan
pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang
hidupnya, baik di dalam jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Sedangkan
kehidupan karier merupakan pengalaman seseorang di dalam dunia kerja. Pada
hakikatnya kehidupan anak (remaja) di dalam pendidikan merupakan awal kehidupan
kariernya.
2. Karaktreristik
Kehidupan Pendidikan dan Karier
Remaja
memiliki tiga lingkungan kehidupan yang ketiga-tiganya mempunyai corak yang
berbeda-beda serta masing-masing memikul tanggung jawab dalam penyelenggaraan
pendidikan. Ketiga lingkungan pendidikan itu ialah keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyebutkan hal itu. Dengan demikian setiap remaja berada pada posisi
pendidikan majemuk. Oleh karena itu, remaja seperti “ditantang” untuk mampu
mengatasi problema keanekaragaman tersebut dan mampu menempatkan dirinya dengan
tepat dan harmonis.
a. Lingkungan
Pendidikan Keluarga
Keluarga
merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anak dan
remaja. Dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikan keluraga bersifat
individual, sesuai dengan pandangan hidup keluarga masing-masing, sekalipun
secara nasional bagi keluarga-keluarga bangsa Indonesia memiliki dasar yang
sama, yaitu Pancasila.
Banyak
corak dan pola penyelenggaraan pendidikan keluarga yang secara garis besar
dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok pola pendidikan, yaitu pendidikan otoriter, pendidikan demokratis,
dan pendidikan liberal. Dalam pendidikan yang bercorak otoriter, anak-anak
senantiasa harus mengikuti apa yang telah digariskan oleh orang tuanya, sedang
pada pendidikan yang bercorak liberal, anak-anak dibebaskan untuk menentukan
tujuan dan cita-citanya. Kebanyakan keluarga di Indonesia mengikuti corak
pendidikan yang demokratis. Makna pendidikan yang demokratis itu oleh Ki Hadjar
Dewantara dinyatakan bahwa penyelengaraan pendidikan itu hendaknya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun
karsa, tut wuri handayani, yang artinya: Di depan memberi contoh, di tengah
membimbing, dan di belakang memberi semangat.
b. Masyarakat
Masyarakat
merupakan lingkungan alami kedua yang dikenal anak-anak. Anak remaja telah
banyak mengenal karakteristik masyarakat dengan berbagai norma dan
keragamannya. Di balik itu di dalam masyarakat terdapat tokoh-tokoh yang
memiliki pengaruh kuat terhadap pola hidup masyarakatnya. Namun hal itu
terkadang tidak mampu mempengaruhi kehidupan remaja, akibatnya para remaja
kadang-kadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan
masyarakat.
Banyak
kelompok kegiatan atau kursus-kursus yang dibangun masyarakat tersebut kurang
menarik remaja; oleh para remaja apa yang disediakan itu nilainya tidak sesuai
dengan perkembangan zaman. Kondisi semacam itu banyak merangsang berpikir
remaja yang responnya belum tentu positif. Banyak kelompok yang membayangkan
masa depannya suram, dan mereka membentuk kelompok yang diberi nama “Madesu”.
c. Sekolah
Sekolah
merupakan lingkungan artifisial yang sengaja diciptakan untuk membina anak-anak
ke arah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan keterampilan
sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari. Kegagalan sekolah dipandangnya
sebagai awal kegagalan hidupnya. Dengan demikian, sekolah dipandang banyak
pengaruh kehidupannya. Oleh karena itu, remaja telah memikirkan benar-benar
dalam memilih dan mendapatkan sekolah yang diperkirakan mampu memberikan
peluang baik baginya di kemudian hari. Pandangan ini didasari oleh berbagai
faktor, seperti faktor ekonomi, faktor sosial, dan harga diri (status dalam masyarakat).
Akan tetapi dalam menentukan pilihan sekolah bagi anaknya, banyak terjadi
campur tangan orang tua terlalu besar. Hal itu sering membawa akibat kegagalan
dalam pendidikan sekolah, karena anak terpaksa mengikuti pelajaran yang tidak
sesuai dengan pilihan dan minatnya.
Untuk
menetapkan pilihan jenis pendidikan dan pekerjaan yang diidamkan banyak faktor
yang harus dipetimbangkan. Faktor prediksi masa depan, faktor prestasi yang
menggambarkan bakat dan minatnya, faktor kehidupan yang dapat diamati dari
kondisi beragamnya lapangan kerja di masyarakat, dan kemampuan daya saing
setiap individu. Mereka belum mampu melihat problema yang begitu kompleks, oleh
karena itu pada umumnya mereka melihat keberhasilan seseorang yang berada di
lingkungan hidupnya sehari-hari.
3. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
a.
Faktor
Sosial Ekonomi
Kondisi
sosial yang menggambarkan status orang tua merupakan faktor yang “dilihat” oleh
anak untuk menentukan pilihan sekolah dan pekerjaan. Secara tidak langsung
keberhasilan orang tuanya merupakan “beban” bagi anak, sehingga dalam
menentukan pilihan pendidikan tersirat untuk ikut mempertahankan kedudukan
orang tuanya.
Faktor
ekonomi mencakup kemampuan ekonomi orang tua dan kondisi ekonomi negara
(masyarakat). Yang pertama merupakan kondisi utama, karena menyangkut kemampuan
orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya.
b.
Faktor
Lingkungan
Pertama
lingkungan kehidupan masyarakat, seperti lingkungan masyarakat perindustrian,
pertanian, atau lingkungan perdagangan. Dikenal pula lingkungan masyarakat
akademik atau lingkungan yang para anggota masyarakatnya pada umumnya
terpelajar atau terdidik. Lingkungan kehidupan semacam itu akan membentuk sikap
anak dalam menentukan pola kehidupan yang pada gilirannya akan mempengaruhi
pemikirannya dalam menentukan jenis pendidikan dan karier yang diidamkan. Kedua, lingkungan kehidupan rumah
tangga, kondisi sekolah merupakan lingkungan yang langsung berpengaruh
terhadap kehidupan pendidikan dan
cita-cita karier remaja. Lembaga pendidikan yang baik mutunya, yang memelihara
kedisiplinan cukup tinggi, akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap
dan perilaku kehidupan pendidikan anak dan pola pikirnya dalam menghadapi
karier.
Ketiga,
lingkungan kehidupan teman sebaya. Di dalam kelompok sebaya berkesempatan
seorang gadis untuk menjadi seorang wanita dan perjaka untuk menjadi seorang
laki-laki serta belajar mandiri sesuai dengan kodratnya.
c.
Faktor
Pandangan Hidup
Pandangan
hidup itu sendiri merupakan bagian yang terbentuk karena lingkungan.
Pengejawantahan pandangan hidup tampak pada pendirian seseorang terutama dalam
menyatakan cita-cita hidupnya. Seseorang dalam memillih lembaga pendidikan
dipengaruhi oleh kondisi keluarga yang melatarbelakangi.
4. Pengaruh
Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier terhadap Tingkah Laku dan Sikap
Pada
jenjang pendidikan dasar yang kurikulumnya masih sangat umum, sekolah tersebut
menyediakan pelajaran dasar yang belum bermakna sebagai pembekalan anak-anak
untuk siap bekerja dan belum terarah kepemberian keterampilan tertentu untuk
terjun ke dunia kerja di dalam
masyarakat. Bagi keluarga yang kurang mampu, banyak pandangan yang
menyatakan bahwa sekolah itu kurang membawa manfaat bagi hidupnya, mereka
(golongan yang sosial ekonominya lemah) memandang bahwa sekolah tidak dapat
memberikan pekerjaan baginya. Hal ini akan mempengaruhi sekali sikap mereka
terhadap pendidikan sekolah tersebut.
Sikap
remaja tehadap pendidikan sekolah banyak diwarnai oleh karakteristik guru yang
mengajarnya. Guru yang “baik” di mata para siswa tidak hanya tergantung kepada
keadaan guru itu sendiri, melainkan tergantung pada banyak faktor. Guru yang
baik itu adalah guru yang akrab dengan siswanya dan menolong siswa dalam
pelajaran. Sekolah bermaksud untuk mampu memberikan kepada peserta didik “apa
yang sesuai dengan kebutuhannya dan keadaannya”?
5. Perbedaan
Individu dalam Perkembangan Pendidikan dan Karier
Perkembangan
intelek dalam pencapaian tingkat pendidikan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan
atau IQ. Berhubung kehidupan pendidikan merupakan bagian awal dari kehidupan
karier, maka dengan perbedaan kehidupan pendidiakn tersebut konsekuensinya akan
membawa perbedaan individual di dalam kehidupan kariernya.
6. Upaya
Pengembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
Hubungan
antara ketiga pelaksana pendidikan itu satu sama lain harus mengadakan
pendekatan untuk mencapai keharmonisan program. Salah satu perbedaan antara
orang dewasa dan anak-anak adalah orang dewasa kegiatan yang dilakukan lebih
berorientasi kepada kerja-kerja produktif, sedang anak-anak masih diwarnai
unsur bermain.
Proses
pemilihan kerja sebenarnya telah berlangsung sejak dini, di saat anak itu
menetapkan pilihan sekolah. Oleh karenanya, mereka masih memerlukan arahan atau
bimbingan orang tua atau pembimbing. Banyak faktor yang digunakan sebagai dasar
untuk menentukan pilihan pekerjaan, antara lain adalah minat dan kemampuan,
jenis kelamin, latar belakang orang tua dan kondisi sosial ekonominya, dan
jenis pekerjaan itu sendiri. Secara psikologis pun para remaja telah cukup
mampu untuk memikul tanggung jawab dan hidup mandiri dalam kehidupan
bermasyarakat. Tetapi di balik itu diakui bahwa tidak semua remaja telah siap
menghadapi kondisi masyarakat yang terus berkembang. Akibatnya mereka belum memiliki
konsep kehidupan masa depan, oleh karenanya tidak sedikit remaja menjadi
bingung berkenaan dengan kehidupan di masa depan. Hal ini akan berakibat bahwa
mereka tampak tidak memiliki pendirian, mengalami kesulitan memilih jenis
pekerjaan, dan banyak mengikuti serta tergantung kepada kelompok, ia berpedoman
kepada “apa kata temannya”. Pedoman dan pendiriannya itu menggambarkan bahwa
mereka belum siap untuk memasuki kehidupan masa depan.
a.
Perkembangan
Karier Remaja
Dalam
arti sempit, pendidikan merupakan persiapan menuju suatu karier, sedangkan
dalam arti luas pendidikan itu merupakan bagian dari proses perkembangan karier
remaja. Remaja yang dilihat dari segi usia mencakup 12-21 tahun, menurut
Ginzberg (Alexander, dkk., 1980) perkembangan kariernya telah sampai pada
periode pilihan tentatif dan sebagian berada pada periode pilihan realistis,
sedangkan menurut Super (Alexander, dkk., 1980) perkembangan karier anak remaja
itu berada pada tahap eksplorasi, terutama sub tahap tentatif dan sebagian dari
sub tahap transisi.
Perkembangan
karier remaja yang menurt Ginzberg ada pada periode pilihan tentatif (11-17
tahun) itu ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah
dalam memutuskan pekerjaan apa yang akan dikerjakannya di masa mendatang. Periode
tentatif ini meliputi 4 (empat) tahapan, yaitu :
1.
Tahap
minat (umur 11-12 tahun)
Remaja sudah mulai
mempunyai rencana dan kemungkinan pilihan karier yang didasarkan pada minat.
Anak belajar tentang apa yang ia suka lakukan dan anak melakukan pilihan-pilihan
secara tentatif atas dasar faktor-faktor subjektif, belum didasarkan atas
pertimbangan-pertimbangan objektif.
2.
Tahap
kapasitas (12-14 tahun)
Remaja mulai
menggunakan keterampilan dan kemampuan pribadinya sebagai pertimbangan dalam
melakukan pilihan dan rencana-rencana karier. Kecenderungan mengidentikkan
dengan ayah berkurang. Sebaliknya remaja makin cenderung mengidentikkan dengan
orang lain yang menjadi idolanya.
3.
Tahap
nilai (15-16 tahun)
Remaja telah menganggap
penting peranan nilai-nilai pribadi dalam proses pilihan karier. Anak mulai
melihat apa yang sesungguhnya penting bagi dirinya, tahu perbedaan konsepsi
tentang berbagai gaya hidup yang disiapkan oleh pekerjaan. Kesadaran tentang
pentingnya waktu mulai berkembang dan menjadi lebih sensitif terhadap perlunya
pekerjaan.
4.
Tahap
transisi (17-18 tahun)
Remaja mulai bergerak
dari pertimbangan-pertimbangan realistis yang masih berada di pinggir kesadaran
ke dalam posisi yang lebih sentral. Anak mulai menghadapi perlunya membuat
keputusan dengan segera, konkret, dan realistis tentang pekerjaan yang akan
datang atau pendidikan yang mempersiapkannya ke suatu pekerjaan tertentu nanti.
Anak makin bebas bertindak sehingga memungkinkan ia melakukan uji coba
keterampilan dan bakat-bakatnya.
Periode
pilihan realistis (17/18 dan lebih tua) remaja telah sampai pada tahap
eksplorasi, yaitu mecari berbagai alternatif pekerjaan yang cocok dan tahap
kristalisasi yaitu melakukan pilihan karier. Tetapi tahap Spesifikasi yang
merupakan tugas perkembangan akhir dalam pilihan karier seseorang, dimana
seseorang telah memiliki suatu pekerjaan yang relatif tetap berusaha untuk
memilih tugas-tugas tertentu atau posisi-posisi spesifik, tentunya belum
merupakan bagian dari perkembangan karier remaja.
b.
Masalah
yang Dihadapi
Masalah
dan hambatan-hambatan itu dapat berasal dari dalam dirinya sendiri, dari luar
dirinya atau lingkungannya ataupun kedua-duanya. Masalah yang berasal dari
dalam dirinya antara lain sering terjadi bahwa minat remaja tidak sesuai dengan
kemampuannya. Masalah yang berasal dari luar atau lingkungannya antara lain
sering terjadi orang tua menghendaki atau memaksa anaknya untuk memilih jurusan
pendidikan yang mempersiapkan pada pekerjaan tertentu tetapi tidak sesuai
dengan kemampuan anak.
Oleh
karena itu, untuk menghadapi remaja yang mengalami masalah atau kesulitan dalam
memilih karier, Shertzer (Alexander, dkk., 1980) menyarankan hal-hal berikut :
1) Pelajari
dirimu sendiri, karena kesadaran diri tentang bakat, kemampuan, dan ciri-ciri
pribadi yang dia miliki merupakan kunci dari ketetapan perencanaan karier.
2) Di
bidang apa kamu merasa paling sreg (confortable).
3) Tulislah
rencana dan cita-citamu secara formal.
4) Biasakan
dirimu dengan tuntutan pekerjaan tertentu yang kamu minati.
5) Tinjau
dan bicarakan lagi rencana kariermu itu dengan orang lain.
6) Jika
ternyata pilihan kariermu tidak cocok, hentikan.
Layanan bimbingan
karier itu dilakukan melalui kegiatan-kegiatan :
a) Pemahaman
diri, bakat, kemampuan, minat, keterampilan, dan ciri-ciri pribadi.
b) Pemahaman
lingkungan: lingkungan pendidikan dan lingkungan pekerjaan serta berbagai
kondisinya.
c) Cara-cara
mengatasi masalah dan hambatan dalam perencanaan dan pemilihan karier
sehubungan dengan kemungkinan keterbatasan lingkungan dan keadaan diri.
d) Perencanaan
masa depan.
e) Usaha
penyaluran, penempatan, pengaturan, dan penyesuaian.
Wi, jebule kwe yo duwe blog ta? hehehe
BalasHapus