Jumat, 16 Mei 2014

Perkembangan Peserta Didik



PPD (Perkembangan Peserta Didik)
Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
1.    Pengertian Kehidupan Pendidikan dan Karier
Banyak bangsa yang mengikuti prinsip pendidikan (belajar) seumur hidup, yang artinya adalah manusia itu senantiasa terus belajar sepanjang hayatnya. Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik di dalam jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Sedangkan kehidupan karier merupakan pengalaman seseorang di dalam dunia kerja. Pada hakikatnya kehidupan anak (remaja) di dalam pendidikan merupakan awal kehidupan kariernya.
2.    Karaktreristik Kehidupan Pendidikan dan Karier
Remaja memiliki tiga lingkungan kehidupan yang ketiga-tiganya mempunyai corak yang berbeda-beda serta masing-masing memikul tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Ketiga lingkungan pendidikan itu ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan hal itu. Dengan demikian setiap remaja berada pada posisi pendidikan majemuk. Oleh karena itu, remaja seperti “ditantang” untuk mampu mengatasi problema keanekaragaman tersebut dan mampu menempatkan dirinya dengan tepat dan harmonis.
a.    Lingkungan Pendidikan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anak dan remaja. Dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikan keluraga bersifat individual, sesuai dengan pandangan hidup keluarga masing-masing, sekalipun secara nasional bagi keluarga-keluarga bangsa Indonesia memiliki dasar yang sama, yaitu Pancasila.
Banyak corak dan pola penyelenggaraan pendidikan keluarga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok pola pendidikan, yaitu pendidikan otoriter, pendidikan demokratis, dan pendidikan liberal. Dalam pendidikan yang bercorak otoriter, anak-anak senantiasa harus mengikuti apa yang telah digariskan oleh orang tuanya, sedang pada pendidikan yang bercorak liberal, anak-anak dibebaskan untuk menentukan tujuan dan cita-citanya. Kebanyakan keluarga di Indonesia mengikuti corak pendidikan yang demokratis. Makna pendidikan yang demokratis itu oleh Ki Hadjar Dewantara dinyatakan bahwa penyelengaraan pendidikan itu hendaknya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang artinya: Di depan memberi contoh, di tengah membimbing, dan di belakang memberi semangat.
b.    Masyarakat
Masyarakat merupakan lingkungan alami kedua yang dikenal anak-anak. Anak remaja telah banyak mengenal karakteristik masyarakat dengan berbagai norma dan keragamannya. Di balik itu di dalam masyarakat terdapat tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh kuat terhadap pola hidup masyarakatnya. Namun hal itu terkadang tidak mampu mempengaruhi kehidupan remaja, akibatnya para remaja kadang-kadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan masyarakat.
Banyak kelompok kegiatan atau kursus-kursus yang dibangun masyarakat tersebut kurang menarik remaja; oleh para remaja apa yang disediakan itu nilainya tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Kondisi semacam itu banyak merangsang berpikir remaja yang responnya belum tentu positif. Banyak kelompok yang membayangkan masa depannya suram, dan mereka membentuk kelompok yang diberi nama “Madesu”.
c.    Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan artifisial yang sengaja diciptakan untuk membina anak-anak ke arah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari. Kegagalan sekolah dipandangnya sebagai awal kegagalan hidupnya. Dengan demikian, sekolah dipandang banyak pengaruh kehidupannya. Oleh karena itu, remaja telah memikirkan benar-benar dalam memilih dan mendapatkan sekolah yang diperkirakan mampu memberikan peluang baik baginya di kemudian hari. Pandangan ini didasari oleh berbagai faktor, seperti faktor ekonomi, faktor sosial, dan harga diri (status dalam masyarakat). Akan tetapi dalam menentukan pilihan sekolah bagi anaknya, banyak terjadi campur tangan orang tua terlalu besar. Hal itu sering membawa akibat kegagalan dalam pendidikan sekolah, karena anak terpaksa mengikuti pelajaran yang tidak sesuai dengan pilihan dan minatnya.
Untuk menetapkan pilihan jenis pendidikan dan pekerjaan yang diidamkan banyak faktor yang harus dipetimbangkan. Faktor prediksi masa depan, faktor prestasi yang menggambarkan bakat dan minatnya, faktor kehidupan yang dapat diamati dari kondisi beragamnya lapangan kerja di masyarakat, dan kemampuan daya saing setiap individu. Mereka belum mampu melihat problema yang begitu kompleks, oleh karena itu pada umumnya mereka melihat keberhasilan seseorang yang berada di lingkungan hidupnya sehari-hari.

3.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
a.    Faktor Sosial Ekonomi
Kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua merupakan faktor yang “dilihat” oleh anak untuk menentukan pilihan sekolah dan pekerjaan. Secara tidak langsung keberhasilan orang tuanya merupakan “beban” bagi anak, sehingga dalam menentukan pilihan pendidikan tersirat untuk ikut mempertahankan kedudukan orang tuanya.
Faktor ekonomi mencakup kemampuan ekonomi orang tua dan kondisi ekonomi negara (masyarakat). Yang pertama merupakan kondisi utama, karena menyangkut kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya.
b.    Faktor Lingkungan
Pertama lingkungan kehidupan masyarakat, seperti lingkungan masyarakat perindustrian, pertanian, atau lingkungan perdagangan. Dikenal pula lingkungan masyarakat akademik atau lingkungan yang para anggota masyarakatnya pada umumnya terpelajar atau terdidik. Lingkungan kehidupan semacam itu akan membentuk sikap anak dalam menentukan pola kehidupan yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemikirannya dalam menentukan jenis pendidikan dan karier yang diidamkan. Kedua, lingkungan kehidupan rumah tangga, kondisi sekolah merupakan lingkungan yang langsung berpengaruh terhadap  kehidupan pendidikan dan cita-cita karier remaja. Lembaga pendidikan yang baik mutunya, yang memelihara kedisiplinan cukup tinggi, akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan perilaku kehidupan pendidikan anak dan pola pikirnya dalam menghadapi karier.
Ketiga, lingkungan kehidupan teman sebaya. Di dalam kelompok sebaya berkesempatan seorang gadis untuk menjadi seorang wanita dan perjaka untuk menjadi seorang laki-laki serta belajar mandiri sesuai dengan kodratnya.
c.    Faktor Pandangan Hidup
Pandangan hidup itu sendiri merupakan bagian yang terbentuk karena lingkungan. Pengejawantahan pandangan hidup tampak pada pendirian seseorang terutama dalam menyatakan cita-cita hidupnya. Seseorang dalam memillih lembaga pendidikan dipengaruhi oleh kondisi keluarga yang melatarbelakangi.
4.    Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier terhadap Tingkah Laku dan Sikap
Pada jenjang pendidikan dasar yang kurikulumnya masih sangat umum, sekolah tersebut menyediakan pelajaran dasar yang belum bermakna sebagai pembekalan anak-anak untuk siap bekerja dan belum terarah kepemberian keterampilan tertentu untuk terjun ke dunia kerja di dalam  masyarakat. Bagi keluarga yang kurang mampu, banyak pandangan yang menyatakan bahwa sekolah itu kurang membawa manfaat bagi hidupnya, mereka (golongan yang sosial ekonominya lemah) memandang bahwa sekolah tidak dapat memberikan pekerjaan baginya. Hal ini akan mempengaruhi sekali sikap mereka terhadap pendidikan sekolah tersebut.
Sikap remaja tehadap pendidikan sekolah banyak diwarnai oleh karakteristik guru yang mengajarnya. Guru yang “baik” di mata para siswa tidak hanya tergantung kepada keadaan guru itu sendiri, melainkan tergantung pada banyak faktor. Guru yang baik itu adalah guru yang akrab dengan siswanya dan menolong siswa dalam pelajaran. Sekolah bermaksud untuk mampu memberikan kepada peserta didik “apa yang sesuai dengan kebutuhannya dan keadaannya”?
5.    Perbedaan Individu dalam Perkembangan Pendidikan dan Karier
Perkembangan intelek dalam pencapaian tingkat pendidikan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan atau IQ. Berhubung kehidupan pendidikan merupakan bagian awal dari kehidupan karier, maka dengan perbedaan kehidupan pendidiakn tersebut konsekuensinya akan membawa perbedaan individual di dalam kehidupan kariernya.
6.    Upaya Pengembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
Hubungan antara ketiga pelaksana pendidikan itu satu sama lain harus mengadakan pendekatan untuk mencapai keharmonisan program. Salah satu perbedaan antara orang dewasa dan anak-anak adalah orang dewasa kegiatan yang dilakukan lebih berorientasi kepada kerja-kerja produktif, sedang anak-anak masih diwarnai unsur bermain.
Proses pemilihan kerja sebenarnya telah berlangsung sejak dini, di saat anak itu menetapkan pilihan sekolah. Oleh karenanya, mereka masih memerlukan arahan atau bimbingan orang tua atau pembimbing. Banyak faktor yang digunakan sebagai dasar untuk menentukan pilihan pekerjaan, antara lain adalah minat dan kemampuan, jenis kelamin, latar belakang orang tua dan kondisi sosial ekonominya, dan jenis pekerjaan itu sendiri. Secara psikologis pun para remaja telah cukup mampu untuk memikul tanggung jawab dan hidup mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi di balik itu diakui bahwa tidak semua remaja telah siap menghadapi kondisi masyarakat yang terus berkembang. Akibatnya mereka belum memiliki konsep kehidupan masa depan, oleh karenanya tidak sedikit remaja menjadi bingung berkenaan dengan kehidupan di masa depan. Hal ini akan berakibat bahwa mereka tampak tidak memiliki pendirian, mengalami kesulitan memilih jenis pekerjaan, dan banyak mengikuti serta tergantung kepada kelompok, ia berpedoman kepada “apa kata temannya”. Pedoman dan pendiriannya itu menggambarkan bahwa mereka belum siap untuk memasuki kehidupan masa depan.
a.    Perkembangan Karier Remaja
Dalam arti sempit, pendidikan merupakan persiapan menuju suatu karier, sedangkan dalam arti luas pendidikan itu merupakan bagian dari proses perkembangan karier remaja. Remaja yang dilihat dari segi usia mencakup 12-21 tahun, menurut Ginzberg (Alexander, dkk., 1980) perkembangan kariernya telah sampai pada periode pilihan tentatif dan sebagian berada pada periode pilihan realistis, sedangkan menurut Super (Alexander, dkk., 1980) perkembangan karier anak remaja itu berada pada tahap eksplorasi, terutama sub tahap tentatif dan sebagian dari sub tahap transisi.
Perkembangan karier remaja yang menurt Ginzberg ada pada periode pilihan tentatif (11-17 tahun) itu ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah dalam memutuskan pekerjaan apa yang akan dikerjakannya di masa mendatang. Periode tentatif ini meliputi 4 (empat) tahapan, yaitu :


1.    Tahap minat (umur 11-12 tahun)
Remaja sudah mulai mempunyai rencana dan kemungkinan pilihan karier yang didasarkan pada minat. Anak belajar tentang apa yang ia suka lakukan dan anak melakukan pilihan-pilihan secara tentatif atas dasar faktor-faktor subjektif, belum didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan objektif.
2.    Tahap kapasitas (12-14 tahun)
Remaja mulai menggunakan keterampilan dan kemampuan pribadinya sebagai pertimbangan dalam melakukan pilihan dan rencana-rencana karier. Kecenderungan mengidentikkan dengan ayah berkurang. Sebaliknya remaja makin cenderung mengidentikkan dengan orang lain yang menjadi idolanya.
3.    Tahap nilai (15-16 tahun)
Remaja telah menganggap penting peranan nilai-nilai pribadi dalam proses pilihan karier. Anak mulai melihat apa yang sesungguhnya penting bagi dirinya, tahu perbedaan konsepsi tentang berbagai gaya hidup yang disiapkan oleh pekerjaan. Kesadaran tentang pentingnya waktu mulai berkembang dan menjadi lebih sensitif terhadap perlunya pekerjaan.
4.    Tahap transisi (17-18 tahun)
Remaja mulai bergerak dari pertimbangan-pertimbangan realistis yang masih berada di pinggir kesadaran ke dalam posisi yang lebih sentral. Anak mulai menghadapi perlunya membuat keputusan dengan segera, konkret, dan realistis tentang pekerjaan yang akan datang atau pendidikan yang mempersiapkannya ke suatu pekerjaan tertentu nanti. Anak makin bebas bertindak sehingga memungkinkan ia melakukan uji coba keterampilan dan bakat-bakatnya.
            Periode pilihan realistis (17/18 dan lebih tua) remaja telah sampai pada tahap eksplorasi, yaitu mecari berbagai alternatif pekerjaan yang cocok dan tahap kristalisasi yaitu melakukan pilihan karier. Tetapi tahap Spesifikasi yang merupakan tugas perkembangan akhir dalam pilihan karier seseorang, dimana seseorang telah memiliki suatu pekerjaan yang relatif tetap berusaha untuk memilih tugas-tugas tertentu atau posisi-posisi spesifik, tentunya belum merupakan bagian dari perkembangan karier remaja.


b.    Masalah yang Dihadapi
Masalah dan hambatan-hambatan itu dapat berasal dari dalam dirinya sendiri, dari luar dirinya atau lingkungannya ataupun kedua-duanya. Masalah yang berasal dari dalam dirinya antara lain sering terjadi bahwa minat remaja tidak sesuai dengan kemampuannya. Masalah yang berasal dari luar atau lingkungannya antara lain sering terjadi orang tua menghendaki atau memaksa anaknya untuk memilih jurusan pendidikan yang mempersiapkan pada pekerjaan tertentu tetapi tidak sesuai dengan kemampuan anak.
Oleh karena itu, untuk menghadapi remaja yang mengalami masalah atau kesulitan dalam memilih karier, Shertzer (Alexander, dkk., 1980) menyarankan hal-hal berikut :
1)   Pelajari dirimu sendiri, karena kesadaran diri tentang bakat, kemampuan, dan ciri-ciri pribadi yang dia miliki merupakan kunci dari ketetapan perencanaan karier.
2)   Di bidang apa kamu merasa paling sreg (confortable).
3)   Tulislah rencana dan cita-citamu secara formal.
4)   Biasakan dirimu dengan tuntutan pekerjaan tertentu yang kamu minati.
5)   Tinjau dan bicarakan lagi rencana kariermu itu dengan orang lain.
6)   Jika ternyata pilihan kariermu tidak cocok, hentikan.
Layanan bimbingan karier itu dilakukan melalui kegiatan-kegiatan :
a)    Pemahaman diri, bakat, kemampuan, minat, keterampilan, dan ciri-ciri pribadi.
b)   Pemahaman lingkungan: lingkungan pendidikan dan lingkungan pekerjaan serta berbagai kondisinya.
c)    Cara-cara mengatasi masalah dan hambatan dalam perencanaan dan pemilihan karier sehubungan dengan kemungkinan keterbatasan lingkungan dan keadaan diri.
d)   Perencanaan masa depan.
e)    Usaha penyaluran, penempatan, pengaturan, dan penyesuaian.

1 komentar: